Selasa, 07 Mei 2013



Assalamu'alaikum                                                              8 mei 2013

 
BIOGRAFI CICILIA ODAY


Cicilia Oday
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiEgHGtWQpO7Q7mc4bG5nAzga4pxlt0Gij85G-xg_FBznZqtPHzSoPIABL1GuYLLVwrxXHad3O4q1TcvOhxvKNTm6YHVGAtwYGQhz66X9jQBzm6BkLAK8a15xHx73v0inFzt3vj9Q0O_gUm/s320/32253_1202756807804_1795110716_368653_2345221_n.jpg

Cicilia Anggraini Oday, lahir di Kotamobagu, Sulawesi Utara, 2 Agustus 1989. Pernah terlibat dalam sinetron lokal garapan rumah produksi Totabuan TV, dan aktif dalam komunitas teater semasa sekolah. Menulis cerpen, di antaranya dimuat di Kompas dan Horison. Kuliah di Fakultas Hukum Universitas Katolik De La Salle, Manado. Kini telah merampungkan Novel pertamanya.

Cerpen karya Cicilia Oday: "Rumah"
SEINGATKU dulu di sana terdapat selajur setapak dari himpunan batu; yang paling kecil hanya sebesar kelereng, sedang yang paling besar seukuran telur ayam kampung, dengan bentuk tak beraturan dan pipih. Batako-batako berbaris mengapit kedua sisi setapak sehingga batu-batu itu takkan berserakan meskipun terlalu kerap dilalui. Ujung selatan setapak berawal dari pintu pagar, ujung utara berakhir di depan tangga teras. Oma Ema telah berkali-kali mengingatkan bahwa jalan setapak itu hanya untuk dilalui pejalan kaki. Sekali waktu Opa Andries mengendarai ontel tuanya di atas jalan setapak itu sekembali dari Gereja. Batu-batu menggelotak ditimpa roda-roda sepeda yang tersendat. Tangan Opa bergetar sambil mencengkeram setang. Dengan gelagat begitu rupa betapa tampak beliau baru belajar mengendarai sepeda. Dari ujung teras, Oma mengomeli ulah suaminya.
Papi, jang parkir tuh speda di teras!*
Aku, Inggid dan Ridel sedang menanam lantana camara atau bunga tai ayam di susuran pagar. Kami tergelak menertawakan Opa.
Ya, aku ingat. Di susuran pagar kayu itu pernah tumbuh berpinak-pinak bunga tahi ayam dan bunga matahari. Sebulan sekali Opa Andries biasa mengecat jerjak kayu pagar yang menggelilingi rumah. Ridel, Om Roy, atau sesekali Ayah membantu pekerjaan Opa. Tetapi musim kemarau menyebabkan cat putih itu mengeloyak. Opa menggerutu sambil menyalahkan kualitas cat pilihan menantunya. Kayu pagar lantas dicat lagi. Putih berkilau jeruji kayu berpadu dengan hijau daun-daun dan kuning warna kelopak bunga tahi ayam dan matahari. Datanglah musim hujan, udara lembab menyebabkan pangkal pagar bersalut lumut. Para cucu berniat membersihkan. Opa segera melarang. Beliau menyukai warna hijau lumut, kecuali lumut pada dinding sumur dan kakus.
Setiap tanggal 17 Agustus Opa akan mengecat jeruji pagar dengan warna merah dan putih. Seluruh jeruji kayu bagian atas dicat merah pekat. Bagian bawahnya dibiarkan tetap putih. Kadang satu ruji dicat merah seluruh. Ruji disebelahnya dicat putih seluruh. Demikian seterusnya secara berselang seling. Suatu kali aku memetik kelopak bugenvil dari pekarangan dan menyarankan Opa agar mengecat pagar kami dengan warna merah serupa kelopak bugenvil itu. Opa menepis tanganku yang menyodorkan kelopak bugenvil di depan wajahnya.
Merah yang itu milik Nippon, bukan merahnya kita, kata Opa. Itu dorang pe merah, bukang torang pe merah.**
Aku belum bersekolah ketika itu, jadi tak paham benar ucapan beliau. Di kemudian hari kutemukan warna merah pastel kelopak bugenvil pada pipi dan bibir orang-orang Jepang yang cenderung kemerahan lantas segera teringat ucapan Opa tempo hari. Ketika jari telunjukku tersundut duri bugenvil, Opa menatap setetes darah yang pelan-pelan menyembul ke luar dari ujung jariku dan berkata bahwa merahnya darah adalah warna kita. Warna keberanian. Adalah berani kalau kamu tak takut mati, tegas Opa. Menggebu. Aku manggut-manggut. Opalah yang paling tahu.
Dengan selembar koran yang tergulung di tanganku kusibak ilalang yang memenuhi pekarangan, bercuatan menghalangi langkah. Aku yakin sedang melangkah di atas tanah yang dahulu adalah jalan setapak. Lumut tebal menyaput anak-anak tangga teras. Aku berdiri di salah satu anak tangga dan memberus lumut dengan sepatuku. Kerikil-kerikil, debu, batang-batang ilalang kering dan bulu unggas, menyeraki ubin teras. Aku berdiri di tengah teras dan menghadap pekarangan. Kulihat Opa dalam balutan singlet sedang membungkuk di depan pagar sambil menyiangi rumput-rumput teki yang tak diharapkan tumbuh di sana, atau memandikan ontelnya di tengah halaman. Angin kencang berhembus, jambul beringin di sudut pekarangan berdesir. Adegan masa lalu itu lesap dari benakku. Kulihat Oma Ema dan anak-anak perempuannya—termasuk Ibuku—mengenakan caping sambil menyeret cangkul melangkah ke luar pintu pagar, menuju rumah hukum tua untuk mendengarkan sebuah pengarahan. Dari palakat telah diumumkan sedari tiga hari sebelumnya bahwa mapalus akan diadakan di halaman balai desa. Ayah tak bisa ikut, kakinya sedang terluka. Aku dan Inggid disuruh menemani Ayah. Aku memijit tungkai Ayah dan sesekali menepis lalat-lalat yang mengerubuti lukanya. Inggid beranjak ke dapur untuk membuatkan kolak kacang ijo. Wajah Ayah tampak muram. Tiga hari belakangan kusadari ia jarang bicara. Aku bertanya mengapa. Ayah sudi bercerita asal aku berjanji dapat menjaga rahasianya. Aku berjanji. Luka pada kaki kirinya disebabkan oleh Om Roy. Om Roy adalah anak sulung Oma dan Opa, kakak Ibuku. Ayah Inggid dan Ridel. Oma dan Opa telah menjatahkan rumah ini untuk anak bungsu mereka. Kata Om Roy rumah seharusnya diberikan kepada anak laki-laki tertua. Ibu diam saja. Ayahlah yang angkat suara untuk mewakili istrinya. Om Roy menuduh Ayah telah menghasut Oma dan Opa untuk mewariskan rumah ini kepada Ibuku. Ayah mengelak tuduhan. Tak pelak mereka bertengkar. Om Roy mengayunkan celuritnya menuju Ayahku. Ayah melompat mundur, luput dari tebasan celurit. Om Roy melontarkan celurit. Ayah kembali menghindar, tapi ia salah perhitungan. Mata celurit menancap pada kakinya. Bujari kaki kiri Ayah hampir putus. Aku menangis mendengar cerita Ayah. Tangannya dengan cepat menyembar lenganku sewaktu aku berniat menyerang Inggid di dapur.
Kurogoh ke luar sebuah anak kunci dari dalam saku. Di lain hari aku gemar mengelus anak kunci itu berlama-lama seraya membayangkan jejak jemari orangtuaku dan orang-orang yang pernah memegang anak kunci ini di masa lalu. Kubayangkan gembok kecil yang menggelantung di antara daun pintu rangkap berdebu itu menangis haru karena hendak bersua pasangannya lagi. Tetapi waktu dan korosi membuat mereka kepam dan asing terhadap satu sama lain. Tembukan pada telinga akan mengatup bila terlalu lama tak dipasangi anting. Aku bertanya-tanya apakah lubang anak kunci di bawah gembok itu juga telah tertutup sebab terlalu lama tak dijejalkan anak kunci. Logam karatan yang berbentuk busur kecil itu terangkat dari badan gembok. Dadaku berdebar. Kami telah meninggalkan rumah itu selama berpuluh tahun. Ayah berpindah-pindah tugas sebagai hakim Pengadilan Negeri di berbagai tempat. Ibu yang tak ingin terus mendapat tekanan dari saudara-saudarannya memutuskan ikut Ayah. Aku tetap di Manado. Bersama suamiku kami tinggal di kompleks perumahan Citra Land. Sebagaimana anak kunci dan gembok karatan itu, aku dan rumah ini telah asing terhadap satu sama lain.
Apakah masa lalu memiliki aroma? Udara kering berisi debu di ruang tamu itu segea menyambut hidungku. Bersinku beberapa kali memecah hening dan menepiskan debu-debu yang mengambang di depan wajah. Satu set kursi rotan berpernis pernah mengisi ruangan seluas 4 x 4 meter itu. Jambangan dari tanah lempung bertengger di tengah meja, dijejali bunga-bunga plastik buatan Inggid. Tangkai-tangkai bunga terbuat dari lidi. Daun-daun dibentuk dari kalender bekas. Kelopak-kelopak bunga yang merah dan hijau terbuat dari kantong plastik kecil. Pada hari-hari tertentu, meja rotan itu akan dihampari taplak meja. Kupu-kupu hijau muda dan kembang sepatu melekat di sudut ujung taplak sebagai hasil sulaman Ibuku. Pada hari-hari biasa permukaan meja dibiarkan terdedah polos.
Aku menghampiri salah satu jendela di seberang pintu. Daun jendela terpentang ke luar. Dahulu, dari ambang jendela ini aku biasa melihat Tanta Irma berkutat mencari kutu dari kepala lima orang anak perempuannya. Kini hanya sebidang tembok berlumut yang menghadang mataku. Tak ada tetangga. Di balik tembok itu berdiri sebuah toko onderdil. Debu menyaput seluruh permukaan kaca jendela persegi panjang di ruang tamu, membuat pemandangan ke pekarangan sabur lemur. Kukatupkan kembali daun jendela dan beralih ke ruangan lain.
Di tembok ruang keluarga itu pernah bertengger sebuah busur kayu bersama enam batang anak panahnya, yang dipajang secara berderet membentuk kipas. Ini bukan barang mainan, kata Opa suatu kali. Temannya dari Papua menghadiahkan senjata berburu itu kepadanya. Tetapi di Minahasa, senjata ini lebih berguna untuk memburu pemerintah pusat yang korup. Dulu Opa membenci orang-orang Jepang dan Belanda. Belakangan kebenciannya menjalar kepada pemerintah negaranya sendiri. Pada suatu masa ia berhenti memajang pigura berisi gambar presiden pertama Indonesia dan menggantinya dengan foto Ventje Sumual, pemimpin gerakan Perjuangan Semesta. Ketika Ridel menikah, Opa menghadiahkan busur beserta ke enam anak panahnya kepada cucu lelakinya itu. Siapa tahu sewaktu-waktu bisa kamu pakai memanah mertuamu yang komuis itu, kata Opa. Anak-anak tertawa mendengar guyonan Opa. Orang-orang dewasa tertawa masam. Seingatku hanya Ayah yang tidak tertawa sama sekali. Apakah Ayah juga komunis? Tanyaku pada Ibu. Kata Ibu, Ayah bukanlah komunis. Tetapi orang-orang komunis juga adalah saudara kami, bukan? Kasihan nasib ke tujuh pahlawan revolusi, kataku. Para komunis juga tak sedikit yang kemudian dibunuh, timpal Ayah. Masih kuingat geram yang melatari suara dan wajahnya sewaktu berbicara. Setiap orang merasa memegang kebenaran tertinggi, kata Ayah kemudian. Siapa yang merasa paling benar mengira berhak melenyapkan nyawa orang lain.
Jadi, siapakah yang paling benar, Ayah?
Yang paling benar adalah hukum, kata Ayah, yang kemudian memutuskan menjadi seorang hakim.
Sebuah lampu teplok bertengger pada tembok di samping kusen pintu yang menghubungkan ruang keluarga dengan ruang makan, satu-satunya perabot yang masih tersisa dari masa lalu. Seingatku lampu itu telah di sana sejak aku lahir dan tumbuh di rumah tua ini. Bila diisi minyak dan sumbuhnya diganti, barangkali lampu teplok itu masih akan berfungsi. Sebuah meja persegi panjang sederhana merapat di sudut terjauh ruang makan. Kuhampiri meja itu, dan menelusuri salah satu sisinya dengan telapak tanganku, seperti hidung yang tengah menghidu jejak suatu bau. Tak berapa lama kutemukan apa yang kucari. Sayatan-sayatan yang membentuk gambar orang-orangan itu kubuat dengan gigi-gigi garpu pada suatu siang ketika menemani Ayah yang terluka kaki. Mendapati permukaan mejanya kurusak dengan gambar orang-oranganku, Opa menegur perbuatanku, lalu memberiku sepotong papan kayu dan batu tulis. Manakala itu kami belum familier dengan kertas dan pensil. Menggambarlah di situ dan jangan lagi merusak perabotan, pesan Opa. Ketika aku beranjak remaja dan beliau semakin ringkih, kupergoki Opa sedang menekuri gambar orang-oranganku begitu lama. Aku menghampiri Opa bersama semangkuk bubur panas. Bulir-bulir air matanya melekat pada permukaan meja. Aku duduk di samping Opa dan menuntun ia memerhatikan sayatan-sayatan berujud orang-orangan itu satu persatu.
Ini Ayah, kata memulai. Telunjukku menyentuh orang-orangan itu secara berganian. Yang pakai rok ini Ibu. Aku menunjuk gambar orang-orangan terpendek yang berdiri di antara kedua orangtuanya. Ini aku. Orang-orangan yang memiliki sanggul dibelakang kepalanya adalah Oma Ema. Dan yang memegangi sebilah parang adalah Opa. Telunjukku berhenti pada gambar dirinya. Opa Andries mulai menangis kembali. Punggungnya bergetar, memendam tangis dan sebuah bayangan masa lalu ke dalam rongga dadanya.
Opa pernah berkata, bahwa sehebat apapun manusia, suatu hari ia pasti kalah oleh waktu. Tak ada satupun senjata yang dapat mengalahkan waktu. Yang kita perlukan hanyalah kebesaran hati menerima. Kata Opa sehari sebelum ajalnya menjemput.
Aku memasuki kamar tidurnya. Tempat tidur kayu yang menopang tubuhnya terakhir kali masih terdapat di sana, merapat pada satu sisi tembok di dekat jendela. Cahaya matahari menyusup masuk melalui ventilasi, menyoroti debu yang mengambang memenuhi udara kamar. Langit-langit dari selembar tripleks tua di salah satu sudut telah terkulai lepas. Tepiannya bergerigi. Air hujan dan lembab udara memudahkan pelapukan kayu itu. Sarang burung bertengger di atas celah sempit di antara tripleks dan tembok. Air hujan yang pernah menetes menyisakan jejak kecoklatan pada permukaan tembok. Noda-noda itu membentuk corak yang menyerupai stalaktit, atau tetesan darah yang telah lama pudar. Aku telah melihat noda-noda yang sama di ruangan yang lain. Kudukku meremang. Aku beranjak ke ruang tamu dan menghadapi artikel itu kembali.
Sebuah Putusan yang Akan Mengubah Segalanya.
Tidak, aku takkan membiarkan sebuah putusan apapun mengubah kehidupan kami. Seorang ayah sangat mungkin berbuat kesalahan. Ayahku sendiri, dan ayah dari anak-anakku. Ayahku telah keliru sejak ia berkata bahwa satu-satunya kebenaran adalah hukum. Tetapi bagaimana dengan kesedihanku dan kekecewaan anak-anak kami terhadap Ayah mereka? Mereka tak pernah mempertimbangkan perasaan kami ketika membuat ketentuan itu. Majelis hakim, mari kita lihat siapa yang harus tunduk kepada siapa.
Handphonku bergetar. Kurogoh ke luar. Nama yang tertera di sana membuatku tersenyum. Kusahuti panggilannya dan meyakinkan penawar pertamaku itu bahwa ia sudah dapat mengunjungi calon rumahnya tiga hari kemudian. Tiga hari yang akan melenyapkan rumput-rumput ilalang dari setiap jengkal tanah halaman dan meniadakan jejak setitik pun debu atau kerak lumut, dan langit-langit tak perlu lagi melendut dan seluruh tembok dicat putih bersih. Aku janji. Aku jamin. Ia adalah seorang rekan dosen yang mengeluh bahwa jaman sekarang sudah sulit menemukan sebuah rumah berasitektur serupa rumah-rumah pada jaman Belanda. Konstruksi rumah-rumah pada jaman itu jauh lebih kokoh daripada rumah jaman sekarang, menurutnya. Lagipula, ia menyukai barang-barang antik. Kepadanya kutunjukan foto diriku yang kanak-kanak sedang duduk di atas undakan teras.
Rumah ini diwariskan kepada Ibuku, yang hanya memiliki satu orang anak—siapa lagi? Kataku.
Ia menatapku diriku, si pemilik rumah terakhir, dan rumah antik itu secara berganti-ganti. Matanya mendelik kagum. Ia mengingini rumah itu. Aku mengingini uangnya. Ia tak keberatan dengan jumlah yang kusebut.


Solilokui Bunga Kemboja

Cerpen Cicilia Oday (Kompas, 20 Juni 2010)
http://lakonhidup.files.wordpress.com/2010/06/solilokui-bunga-kamboja.jpg?w=426

                 DIRIKU sekuntum bunga Kemboja. Kelopak-kelopakku merah kesumba sewarna gincu wanita yang kerap memandikanku sekali seminggu.
Wujud rupaku menyerupai genta. Walaupun kami lebih identik sebagai bunga kuburan, tetapi oleh wanita yang memeliharaku, aku tumbuh di dalam sebuah pot cantik di teras depan rumahnya. Dari tempatku berada, aku biasa menatap bentangan langit malam yang berhamburan bebintangan.
Benda-benda angkasa yang terang benderang itu selalu mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang benarlah nyata, tetapi lebih tampak seperti fatamorgana. Aku selalu memandanginya tatkala ia sedang memandikan mobil kesayangannya dari dalam garasi.
Lelaki itu adalah anak sulung wanita yang warna gincunya sewarna diriku. Sempat kedengkian menghinggapiku melihat betapa kedekatan kedua manusia berbeda kodrat itu, sampai kudengar si lelaki menyapa wanita bergincu kesumba itu dengan panggilan ibu.
Dari wajah dan rekah senyumnya tahulah aku betapa kebaikan hatinya seperti kebanyakan manusia penghuni rumah ini. Dari caranya memperlakukan mobil kesayangannya, tahulah aku betapa ia tak pernah pilih kasih terhadap benda mati ataupun benda hidup.
Sampai detik ini aku masih memendam rasa cemburu terhadap benda mati bernama mobil itu. Setiap hari kulihat lelaki itu menumpanginya manakala hendak menuju suatu tempat yang tak pernah kuketahui juntrungannya.
Tiap kali ia kembali hari telah merangkak malam. Raut wajah dan bahasa tubuhnya memberitahuku bahwa ia kelelahan. Tetapi keesokan pagi ia akan mengulangi kebiasaan yang sama, sampai lantas kuhafal luar kepala pola kegiatannya meskipun sebatas teras dan garasi itu saja.
Sesekali kulihat ia pulang dengan mengajak beberapa orang lelaki seusia dirinya. Tak jarang terdapat satu atau dua orang perempuan di antara mereka. Percakapan yang diiringi tawa berlangsung tatkala mereka melintasi teras depan sebelum mencapai ruang tamu.
Betapa beruntung menjadi manusia lelaki dan perempuan yang dekat dengan lelaki itu, walaupun bagiku tetap tiada yang lebih beruntung daripada mobil yang selalu ia tumpangi. Tak jarang mereka berkumpul di kursi teras sembari bercakap ditemani penganan dan secangkir teh.
“Coba lihat. Kembang Kemboja itu seperti sedang menatap kita,” kata perempuan yang telunjuknya menunding ke arahku. Lantas seorang lelaki bertubuh ceking berjalan melintasi teras sambil menggenggam spidol di satu tangannya.
“Kamu mau apa?” tanya si lelaki, menyela langkah temannya.
“Aku mau bikin mata pada kedua kelopak Kemboja itu supaya kelihatan kalau dia benar-benar menatap kita.”
“Hey, itu Kemboja kesayangan Ibuku.”
Itulah hari pertama ia membelaku di depan teman-temannya. Kelopak-kelopakku mekar dan warnaku kian merona. Tetapi selain hari itu, lelaki itu tak pernah memperhatikan diriku secara khusus. Keindahanku hanya berlaku di depan mata para wanita sebab mereka lebih dapat menghargai keindahan. Bagi lelaki itu dan teman-temannya, aku tiada berbeda dari pot tempat tubuhku bertumbuh. Rasa kecewa yang hinggap dalam diriku semakin besar tiap kali lelaki itu lewat tanpa pernah sempatkan melirikku barang sekejap.
Betapa keindahan ini seperti tak berarti tanpa dihargai oleh lelaki yang kucintai. Atas kesadaran itu, suatu hari aku berhenti membuat diriku mekar, tak peduli berapa kali dalam seminggu wanita bergincu itu memandikanku dan memberiku pupuk untuk meningkatkan kualitas tanah di dalam potku, usahanya tetap tak bisa membantu. Aku telah kehilangan minat terhadap kehidupan.
Masa itu berlangsung berminggu-minggu lamanya. Rona pada kelopak-kelopak bungaku pudar. Wanita itu kini tak bergincu lagi. Wajahnya tampak selisut diriku yang tak mau mekar barang serecup saja. Seluruh bunga Kemboja di teras rumahnya turut merasakan dukaku. Mereka lantas putuskan tak mau mekar selama dukaku belum teratasi. Raut wajah sebam dan sepasang mata tanpa binar cahaya menatap iba kepada kami.
Belakangan lelaki itu pun tampak bermuram durja. Tiap kali melintasi teras menuju garasi ia tak lagi memutar-mutar seronce anak kunci di ujung telunjuknya sambil bersiulan. Jangan-jangan sesuatu terjadi pada mobil kesayangannya. Tetapi kepada seorang teman kudengar ia memberi tahu bahwa kesedihannya disebabkan oleh sikap murung ibunya.
Wanita yang telah malang melintang di dunia botani itu mendandak merasa dirinya tak becus mengurusi tetumbuhan di teras depan rumahnya sehingga nyaris seluruh Kemboja kesayangannya mati. Daun-daun meluruh nyaris tanpa bersisa, kelopak-kelopak bunga mengatup seperti gadis-gadis remaja yang merajuk.
Sumber terdalam kesedihan lelaki itu adalah keputusan sang ibu untuk menyerah dari hobinya bercocok tanam, hal mana yang menjadi satu-satunya hiburan di masa menjelang pensiun. Melihat kenyataan itu, yakinlah aku bahwa si lelaki lebih menyayangi sang ibu daripada benda mati yang ia mandikan setiap pagi, walaupun tampak ia lebih besar menaruh perhatian padanya. Tetapi ia tetaplah lebih mencintai perempuan yang mencintai diriku dan bunga-bunga Kemboja yang lain, bagaikan kami ini anak-anaknya sendiri.
Pagi hari adalah waktu terbaik bagi setiap bunga. Titik-titik embun menyaput sekujur kelopak yang baru separuh merecup. Kami lebur bersama gigil pagi. Tetapi pagi itu aku merekah mendahului yang lainnya. Kelopak-kelopakku bahkan mekar lebih lebar daripada biasanya. Dengan tak sabaran aku menantikan pintu depan di ujung teras itu dibuka untuk pertama kali.
Pada setiap pagi yang telah kulalui di teras rumah ini, wanita berginculah yang selalu membuka pintu depan untuk pertama kali bersama alat penyiram tanaman di tangannya, dengan bekal semangat berniat memberi kami makan. Minggu-minggu terakhir betapa pemandangan itu tak pernah tampak lagi, tetapi kujamin pagi ini keputusanku menjadi mekar kembali dapat mengembalikan semangat yang sempat redup wanita bergincu itu.
Matahari sudah setengah perjalanan melakukan patrol. Sinarnya menyapuh tiap lembar daun dan kelopak bunga kami. Siang hari menjelang. Aku gelisah menunggu pintu itu dibuka oleh si wanita bergincu. Akhirnya daun pintu terbuka, tetapi yang tampak olehku pertama kali adalah dia, lelaki itu! Kaus oblong yang membalut tubuhnya nyaris sewarna kelopak-kelopak bungaku. Ia berjalan gontai. Aku terus mengawasi wajah tampan lelaki itu. Sesuatu dalam diriku berdebar keras, sehingga menyebabkan kelopak-kelopakku bergoyang.
Tak kuduga gerakanku memancing lelaki itu menoleh. Matanya melebar pada detik pertama ia menatapku. Kutunggu lelaki itu menghampiriku, tetapi tubuh itu berbalik menuju pintu, berlari sepanjang ruangan. Kurang dari satu menit kemudian, lelaki itu muncul lagi bersama wanita bergincu yang masih belum lagi bergincu. Mata wanita itu melebar sambil mulutnya menganga. Perlahan ia melangkah menghampiri pot-pot berisi Kemboja sepanjang tepian teras, menyapuhkan tangannya di atas kelopak-kelopak kami secara bergantian.
“Bunga-bunga itu tak ingin berlama-lama melihat kesedihan ibu.” Lelaki itu berkata. Sebutir air susul menetes jatuh dari sudut mata wanita itu. Keterkejutan di wajahnya berubah haru atau apa pun itu yang sukar kujelaskan. Pelan bahunya lantas bergetar sebelum isak tangis menguasainya. Lelaki itu mendekap tubuh ibunya, merapatkan kepala pada bidang dadanya.
“Mungkin ini karena pupuk yang ibu beri waktu itu,” kata wanita itu.
“Mungkin karena ibu tak pernah berhenti mencintai mereka,” lelaki itu lebih yakin dengan pendapatnya. Mungkin baginya, kebahagiaan sang ibu membawa dua kali lipat kebahagiaan bagi dirinya, tetapi bagiku, betapa kebahagiaannya membawa berlipat-lipat kebahagiaan bagi diriku.
Aku mulai dapat memaknai diriku lebih dari sewujud bentuk yang menyerupai genta dan merah kesumba kelopak-kelopakku. Keindahan barulah bermakna ketika ia dapat bermanfaat bagi makhluk lain tak terkecuali manusia, terutama bagi wanita bergincu yang betapa kesedihannya adalah beban bagi anak laki-laki sulungnya.
Wanita bergincu itu kembali memoles bibirnya dengan gincu merah kesumba sewarna kelopak-kelopakku. Duka si lelaki kini lesap bersama duka sang ibu. Mulailah pola kegiatannya berjalan seperti biasa dengan semangat yang tak biasa.
Malam hari mobil kesayangannya memasuki garasi. Sesuatu dalam diriku berdebar keras menunggu sosok lelaki itu terlihat. Pintu kemudi terbuka, menyusul dirinya berjalan keluar mengitar mobil. Di luar kebiasaan ia membuka pintu di samping jok penumpang. Tampaklah seorang wanita berambut panjang ikal mayang, berdiri di sampingnya.
Kulihat wajah si lelaki sumringah tatkala menuntun perempuan itu berjalan melintasi teras. Tangan keduanya saling menggenggam. Di tengah teras mereka berhenti. Perempuan itu menunduk sambil menggigit bibir. Tangannya meremas tangan lelaki yang menggenggamnya. Kudengar ia mengeluh cemas.
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa,” Lelaki itu berusaha menenangkan. Sehembus angin menyebabkan desir dedaunan yang saling menggesek. Dua helai daunku melayang jatuh, disambut lembab tanah. Tetes-tetes getah berjatuhan dari ujung lengan tempat pangkal daunku barusan jatuh. Sebelum malam ini angin sekencang apa pun tak dapat menyebabkan daun-daunku luruh. Melihat keadaannya sekarang, aku ragu bahwa anginlah benar penyebabnya. Siapakah yang patut kusalahkan di antara si lelaki dan perempuan berambut panjang ikal mayang? Barangkali takdirku sendiri karena tercipta hanya sebagai sekuntum bunga Kemboja.
Lelaki itu berjalan menujuku. Perempuan berambut panjang ikal mayang itu tetap terpaku di tengah teras, memperhatikan gelagat si lelaki. Tangan lelaki itu terangkat menuju sepal tempat melekatnya kelopak-kelopakku. Detik pertama ia menyentuhku, ia membawa serta seluruh kesadaranku dari lengan cabang tempat aku tertancap seorang diri. Betapapun, aku hanyalah sekuntum bunga Kemboja. Hidupku berakhir di ujung jemari lelaki yang kuncintai, yang dengan wajah direkah senyuman membawaku kepada perempuan berambut panjang ikal mayang yang tengah cemas menantinya di tengah teras.
Diselipkannya diriku di ujung pangkal telinga sang kekasih. Dari sana aku dapat menatap wajahnya lebih jelas dari yang sudah-sudah. Ia tersenyum menatap diriku di ujung pangkal telinga kekasihnya, bening matanya memantulkan seraut wajah perempuan yang balas tersenyum.
Aku sekarat. Perempuan itu luput merasakan getahku yang bertetesan di antara helai-helai rambutnya.
“Kamu tidak apa-apa sekarang?” lelaki itu bertanya.
Perempuan itu mengangguk pelan. Mereka lantas berjalan menuju pintu masih dengan kedua tangan saling menggenggam. Di ambang pintu lelaki itu memindahkan diriku dari celah di antara kuping kekasihnya ke dalam kantong depan kemejanya. Dari sana, aku dapat mendengar detak jantungnya yang bagaikan menghitung detik-detik kematianku.
“Jangan sampai dilihat ibu bunga Kembojanya dipetik,” samar-samar suaranya terdengar. Getahku berhenti menetes. Walaupun aku masih memendam perasaanku terhadap dirinya, kini yang terpenting adalah memberikan kepada orang yang kucintai sesuatu hal yang dapat mendatangkan kebahagiaan bagi dirinya. Seandainya aku tercipta sebagai seorang manusia tentulah aku dapat belajar lebih banyak tentang cinta daripada yang dapat terpahami oleh sekuntum bunga Kemboja. (DJE)



   assalamu'alaikum

 berikut sejumlah  sastrawan indonesia dan masing-masing 5 karyanya,,
ssemoga bermanfaat amin...



  • Biografi

            Dilahirkan di
Cirebon, Jawa Barat, 12 Oktober 1929. Penyair yang dikenal dengan dua kumpulan puisinya: Suara (1956) dan Etsa (1958) ini, juga dikenal sebagai penerjemah yang produktif. Karya-karya terjemahannya, antara lain Pelacur (1954, Jean Paul Sartre), Sulaiman yang Agung (1958, Harold Lamb), Bunglon (1965, Anton Chekov), Bayangan Memudar (1975, Breton de Nijs, diterjemahkan bersama Sugiarta Sriwibawa), Pertempuran Penghabisan (1976, Ernest Hemingway), dan Sanyasi (1979, Rabindranath Tagore). Ia merupakan catatan sejarah sastra tahun 1950-an, yang pada zamannya penuh perjuangan, sehingga karya-karya Toto selalu berisi perjuangan dan perlawanan melawan penjajah, seperti sajak Pahlawan Tak Dikenal, Gadis Peminta-minta, Ibukota Senja, Kemerdekaan, Ode I, Ode II, Tentang Kemerdekaan.

‘’5 puisi’’

1. Pahlawan Tak Dikenal

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur, sayang
Sebuah lubang peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata, kita sedang perang

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tau untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi bukan tidur sayang

Wajah sunyi setengah tengadah
Menangkap sunyi padang senja
Dunia tambah bekudi tengah derap dan suara merrdu
Dia masih sangat muda

Hari itu 10 November,hujan pun mulai turun
orang orang-ingin kembali memandangnya
Sambil merangkai karangan bunga
Tapi yang nampak, wajah-wajahnya sendiri yang tak dikenalnya

Sepuluh tahun yang lalu dia terbaring
Tetapi bukan tidur,sayang
Sebuah peluru bundar di dadanya
Senyum bekunya mau berkata : aku sangat muda





2. Tentang Kemerdekaan

Kemerdekaan ialah tanah air dan laut semua muara
janganlah takut kepadanya

Kemerdekaan ialah tanah air penyair dan pengembara
janganlah takut padanya

Kemerdekaan ialah cinta salih yang mesra
Bawalah daku kepadanya

3. Gadis Peminta-Minta

Setiap kali bertemu,gadis kecil berkaleng kecil
Senyummu terlalu kekal untuk kenal duka
Tengadah padaku,pada bulan merah jambu
Tapi kotaku jadi hilang,tanpa jiwa

Ingin aku ikut,gadis kecil berkaleng kecil
Pulang ke bawah jembatan yang melulur sosok
Hidup dari kehidupan angan-angan yang gemerlapan
Gembira dari kemayaan riang

Duniamu yang lebih tinggi dari menara katedral
Melintas-lintas di atas air kotor, tapi yang begitu kau hafal
Jiwa begitu murni, terlalu murni
Untuk bisa membagi dukaku

Kalau kau mati, gadis kecil berkaleng kecil
Bulan di atas itu, tak ada yang punya
Dan kotaku, ah kotaku
Hidupnya tak lagi punya tanda

4. ODE  II
dengar, hari ini ialah hari hati yang memanggil
dan derap langkah yang berat maju ke satu tempat
dengar, hari ini ialah hari hati yang memanggil
dan kegairahan hidup yang harus jadi dekat
berhenti menangis, air mata kali ini hanya buat si tua renta
atau menangis sedikit saja
buat sumpah yangtergores pada dinding-dinding
yang sudah jadi kuning dan jiwa-jiwa yang sudah mati
atau buat apa saja yang dicintai dan gagal
atau buat apa saja
yang sampai kepadamu waktu kau tak merenung
dan menampak jalan yang masih panjang
dengar, hari ini ialah hari hatiku yangmemanggil
mata-mata yang berat mengandung suasana
membersit tanya pada omong-omong orang lalu
mengenangkan segenap janji yang dengan diri kita menyatu
dengarlah, o, tanah di mana segala cinta merekamkan dirinya
tempat terbaik buat dia
ialah hatimu yang kian merah memagutnya
kala hdia terbaring di makam senyap pangkuanmu *
*kenangan buat matinya seorang pejuang

5. Ibu Kota Senja

Penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari
Antara kuli-kuli berdaki dan perempuan telanjang mandi
Di sungai kesayangan, o, kota kekasih
Klakson oto dan lonceng trem saing-menyaingi
Udara menekan berat di atas jalan panjang berkelokan
Gedung-gedung dan kepala mengabur dalam senja
Mengarungi dan layung-layung membara di langit barat daya
0, kota kekasih
Tekankan aku pada pusat hatimu
Di tengah-tengah kesibukanmu dan penderitaanmu
Aku seperti mimpi, bulan putih di lautan awan belia
Sumber-sumber yang murni terpendam
Senantiasa diselaputi bumi keabuan
Dan tangan serta kata menahan napas lepas bebas
Menunggu waktu mengangkut maut
Aku tiada tahu apa-apa, di luar yang sederhana
Nyanyian-nyanyian kesenduan yang bercanda kesedihan
Menunggu waktu keteduhan terlanggar di pintu dinihari
Serta keabadian mimpi-mimpi manusia
Klakson dan lonceng bunyi bergiliran
Dalam penghidupan sehari-hari, kehidupan sehari-hari
Antara kuli-kuli yang kembali
Dan perempuan mendaki tepi sungai kesayangan
Serta anak-anak berenangan tertawa tak berdosa
Di bawah bayangan samar istana kejang
Layung-layung senja melambung hilang
Dalam hitam malam menjulur tergesa
Sumber-sumber murni menetap terpendam
Senantiasa diselaputi bumi keabuan
Serta senjata dan tangan menahan napas lepas bebas
0, kota kekasih setelah senja
Kota kediamanku, kota kerinduanku.

    2.  SOETARDJI CALZOUM BACHRI
·         Biografi

            Pria kelahiran 24 Juni 1941 ini digelari 'presiden penyair Indonesia'. Menurut para seniman di Riau, kemampuan Soetardji laksana rajawali di langit, paus di laut yang bergelombang, kucing yang mencabik-cabik dalam dunia sastra Indonesia yang sempat membeku dan membisu setelah Chairil Anwar pergi.
Dia telah meraih sejumlah pengharaan atas karya-karya sastranya. Antara lain Hadiah Sastra ASEAN (1979),  Hadiah Seni (1993), Anugerah Sastra Chairil Anwar (1998), serta Anugerah Akademi Jakarta (2007). Dia memiliki gaya tersendiri saat membacakan puisinya, kadang kala jumpalitan di atas panggung, bahkan sambil tiduran dan tengkurap.

Penyair kondang lulusan FISIP Unpad jurusan Administrasi Negara, ini pada ulang tahun ke-67 Sutardji Calzoum Bachri, Selasa (24/6/2008) malam, yang diperingati di Pekanbaru, Riau, mendapat apresiasi dan kejutan.
‘’5 puisi’’

1. MANTERA

                    lima percik mawar
                    tujuh sayap merpati
                    sesayat langit perih
                    dicabik puncak gunung
                    sebelas duri sepi
                    dalam dupa rupa
                    tiga menyan luka
                    mengasapi duka
                    puah!
                    kau jadi Kau!
                    Kasihku

2. HEMAT

dari hari ke hari
bunuh diri pelan-pelan
dari tahun ke tahun
bertimbun luka di badan
maut menabungKu
segobang-segobang

3. WALAU

walau penyair besar
takkan sampai sebatas allah
dulu pernah kuminta tuhan
dalam diri
sekarang tak
kalau mati
mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat
jiwa membumbung dalam baris sajak
tujuh puncak membilang bilang
nyeri hari mengucap ucap
di butir pasir kutulis rindu rindu
walau huruf habislah sudah
alifbataku belum sebatas allah

4. NGIAU

Suatu gang panjang menuju lumpur dan terang tubuhku mengapa
panjang. Seekor kucing menjinjit tikus yang menggelepar
tengkuknya. Seorang perempuan dan seorang lelaki bergigitan.
Yang mana kucing yang mana tikusnya? Ngiau! Ah gang
yang panjang. Cobalah tentukan! Aku kenal Afrika aku kenal
Eropa aku tahu Benua aku kenal jam aku tagu jentara
aku kenal terbang. Tapi bila dua manusia saling gigitan
menanamkan gigi-gigi sepi mereka akan ragu menetapkan yang
mana suka yang mana luka yang mana hampa yang mana
makna yang mana orang yang mana kera yang mana dosa yang
mana surga.


5. SATU

kuterjemahkan tubuhku ke dalam tubuhmu
ke dalam rambutmu kuterjemahkan rambutku
jika tanganmu tak bisa bilang tanganku
kuterjemahkan tanganku ke dalam tanganmu
jika lidahmu tak bisa mengucap lidahku
kuterjemahkan lidahku ke dalam lidahmu
aku terjemahkan jemariku ke dalam jemarimu
jika jari jemarimu tak bisa memetikku
ke dalam darahmu kuterjemahkan darahku
kalau darahmu tak bisa mengucap darahku
jika ususmu belum bisa mencerna ususku
kuterjemahkan ususku ke dalam ususmu
kalau kelaminmu belum bilang kelaminku
aku terjemahkan kelaminku ke dalam kelaminmu

daging kita satu arwah kita satu
walau masing jauh
yang tertusuk padamu berdarah padaku


 3.  ASRUL SANI
·         Biografi
Asrul Sani (lahir di Rao, Sumatra Barat, 10 Juni 1926 – wafat di Jakarta, 11 Januari 2004 pada umur 77 tahun) adalah seorang sastrawan dan sutradara film asal Indonesia. Menyelesaikan studi di Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Indonesia (1955). Pernah mengikuti seminar internasional mengenai kebudayaan di Universitas Harvard (1954), memperdalam pengetahuan tentang dramaturgi dan sinematografi di Universitas California Selatan, Los Angeles, Amerika Serikat (1956), kemudian membantu Sticusa di Amsterdam (1957-1958).
‘’5 puisi ’’

1. Surat Dari Ibu
Pergi ke dunia luas, anakku sayang
pergi ke hidup bebas !
Selama angin masih angin buritan
dan matahari pagi menyinar daun-daunan
dalam rimba dan padang hijau.
Pergi ke laut lepas, anakku sayang
pergi ke alam bebas !
Selama hari belum petang

dan warna senja belum kemerah-merahan
menutup pintu waktu lampau.
Jika bayang telah pudar
dan elang laut pulang kesarang
angin bertiup ke benua
Tiang-tiang akan kering sendiri
dan nakhoda sudah tahu pedoman
boleh engkau datang padaku !
Kembali pulang, anakku sayang
kembali ke balik malam !
Jika kapalmu telah rapat ke tepi
Kita akan bercerita
“Tentang cinta dan hidupmu pagi hari.”

2. Anak Laut

Sekali ia pergi tiada bertopi
Ke pantai landasan matahari
Dan bermimpi di tengah hari
Akan pergi di jauhan

Pasir dan air seakan
Bercampur aawan
tiada menutup
mata dan hatinya rindu
melihat laut terbentang biru

“Sekali aku pergi
dengan perahu
ke negeri jauhan
dan menyanyi
kekasih hati
lagu merindukan
daku.”

“Tenggelam mahatari
Ufuk sana tiada nyata
bayang-bayang bergerak perlahan
aku kembali padanya.”

Sekali ia pergi tiada bertopi
Ke pantai landasan matahari
Dan mimpi tengah hari
Akan pergi di jauhan
Hendak ke mana angin
buritan ini membawa daku
sedang laut tawar tiada mau tahu
dan bintang, tiada
pemberi pedoman tentu
Ada perempuan di sisiku
sambil tersenyum
bermain-main air biru
memandang kepada panji-panji
di puncak tiang buritan
dan berkata
"Ada burung camar di jauhan!”

Cahaya bersama aku
Permainan mata di tepi langit
akan hilang sekejap waktu
Aku berada di bumi luas,
Laut lepas
Aku lepas
Hendak ke mana angin
buritan membawa daku
Sintawati datang dari Timur,
Sintawati menyusur pantai
la cium gelombang melambung tinggi
la hiasi dada dengan lumut muda,
la bernyanyi atas karang sore dan pagi,
Sintawati telah datang dengan suka sendiri

Sintawati telah lepaskan ikatan duka
Sintawati telah belai nakhoda tua,
Telah cumbu petualang berair mata
Telah hiburkan perempuan-perempuan bernantian
di pantai senja

Jika turun hujan terlahir di laut
Berkapalan elang pulang ke benua
Sintawati telah tunggu dengan wama biang-lala,
Telah bawa bunga, telah bawa dupa

Sintawati mengambang di telaga gunung,
Dan panggil orang utas yang beryakinkan kelabu
Telah menakik haruman pada batang tua,
Telah dendangkan syair dari gadis remaja

Sintawati telah menyapu debu dalam kota
Telah mendirikan menara di candi-candi tua,
Sintawati telah bawa terbang cuaca,
Karena Sintawati senantiasa bercinta

Sintawati datang dari Timur,
Sintawati telah datang ..........
.......... datang,
Sinta
datang ......!
Untuk seorang sahabat

Air mata, adalah sekali ini air mata dari hati
  yang mengandung durja,
Dan kelulah kekasih senantiasa berpisah
Tiadalah lagi senyum yang akan timbul karena suatu kemenangan
Habislah segala kenangan-selalu pada fajar-selalu
  yang membawa harap.


Sudah tahu, suatu kesalahn sekali,
Telah merobah titik asal harap,
Dan karena gelombang yang memukul tinggi
dengan segala rahasia dan senjata yang ada dalam kerajaannya
Telah jadikan suatu cinta yang marak-hidup lepas dari lembaga
Dan gamitan tangan dan mata berhenti pada suatu keluh
  sedan dari jiwa yang lberduka.

Bangunlah kekasih, berilah daku bahagia,
Dari segala cahaya yang ada padamu.
Bagiku, keluhan yang lama akan
Mematikan segala tindakan,
Membuat lagak tidak punya tokoh
Ucapan kehilangan asal dan bekas
Serta ini pulau-banyak dan intan laut yang kukasihi,
Akan menjadi suatu bencana dari kelumpuhan orang berpenyakit pitam
 Aku akan hilang-lenyap, tiada meninggalkan nama.
Suatu sedih sangsai dari diriku,
Atas suatu panggilan dengan suara kecil
Dari laki-laki di depan laut di belakang gunung.

Berikan suatu pekikan peri,
Dan ini akan lebih membujuk
Dari suatu mulut terbuka, tapi tiada berkata.
Air mata yang terbayang, tetapi tiada berlinang
Dari suatu kebisuan, dari suatu kebisuan

Jika ini adalah suatu impian,
Maka janganlah bermimpi,
bagaimanapun terang malam.
Sedang daku akan berjaga,
sampai sosok tali dantiang
tergantung pada sinar pagi yang timbul.

Suatu khianat yang telah memakan cinta
suatu kebakhilan manusia yang enggan beryakin
suatu noda,
Dan suatu derita dan keluh uang mengelu
......................

demikianlah sahabat mari berdoa,
mari berdoa,
kita akan berdoa,
kita akan berdoa, kita akan berdoa
kita akan berdoa, untuk pagi hari yang akan timbul.

 4.  D. ZAWAWI IMRON
  • Biografi
D Zawawi Imron (lahir di Batang-batang, Sumenep, Madura, 1945, tidak diketahui tanggal dan bulannya) adalah sastrawan Indonesia.
Penyair yang tidak tamat Sekolah Rakyat ini tetap tinggal di desa kelahirannya. Dia memenangkan hadiah utama penulisan puisi ANTV (1995).
Bersama Dorothea Rosa Herliany, Joko Pinurbo, dan Ayu Utami, Zawawi pernah tampil dalam acara kesenian Winter Nachten di Belanda (2002).

‘’5 puisi’’

1. Ibu

kalau aku merantau lalu datang
musim kemarau
sumur-sumur kering, daunpun gugur bersama reranting
hanya mata air airmatamu, ibu, yang tetap lancar mengalir

bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sarisari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar

ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang meyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti

bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu

2. ZIKIR
alif, alif, alif
alifmu pedang di tanganku
susuk di dagingku, kompas di hatiku
alifmu tegak jadi cagak, meliut jadi belut
hilang jadi angan, tinggal bekas menetaskan terang
hingga aku berkesiur
pada angin kecil akdir-mu
hompimpah hidupku, hompimpah matiku,
hompimpah nasibku, hompimpah, hompimpah,
hompimpah!
kugali hatiku dengan linggis alifmu
hingga lahir mata air, jadi sumur, jadi sungai,
jadi laut, jadi samudra dengan sejuta gelombang
mengerang menyebut alifmu
alif, alif, alif!
alifmu yang satu
tegak di mana-mana

3. Sungai Kecil
sungai kecil, sungai kecil! di manakah engkau telah kulihat?
antara cirebon dan purwakarta atau hanya dalam mimpi?
di atasmu batu-batu kecil sekeras rinduku dan di tepimu daun-
daun bergoyang menaburkan sesuatu yang kuminta dalam
doaku
sungai kecil, sungai kecil terangkanlah kepadaku, di manakah
negeri asalmu?
di atasmu akan kupasang jembatan bambu agar para petani
mudah melintasimu danb akan kubersihkan lubukmu agar
para perampok yang mandi merasakan juga sejuk airmu
sungai kecil, sungai kecil! mengalirlah terus ke rongga jantungku
dan kalau kau payah, istirahatlah ke dalam tidurku! Kau yang
jelita kutembangkan buat kekasihku.


4. Hanya Seutas Pamor Badik
Dalam tubuhku kau nyalakan dahaga hijau
Darah terbakar nyaris ke nyawa
Kucari hutan
Sambil berdayung di hati malam
Bintang-bintang mengantuk
Menunggu giliran matahari
Ketika kau tegak merintis pagi
Selaku musafir kucoba mengerti:
Ternyata aku bukan pengembara
Kata-kata dan peristiwa
Telah lebur pada makna
Dalam aroma rimba dan waktu
Hanya seutas pamor badik, tapi
Tak kunjung selesai dilayari


5. Sebuah Istana
Tepi jalan antara sorga dan neraka
Kumasuki sebuah istana
Tempat sejarah diperam
Menjadi darah dan gelombang
Lewat jendela sebelah kiri
Kulihat matahari menjulurkan lidah
Seperti anjing lapar
Aku makin tak’ ngerti
Mengapa orang-orang memukul-mukul perutnya
Jauh di batas gaib dan nyata
Kabut harimau menyembah cahaya
Kutarik napas dalam-dalam
Dan kupejamkan mata
Alangkah kecil dunia!