Assalamu'alaikum 8 mei 2013
BIOGRAFI CICILIA ODAY
Cicilia
Oday
Cicilia Anggraini Oday, lahir di
Kotamobagu, Sulawesi Utara, 2 Agustus 1989. Pernah terlibat dalam sinetron
lokal garapan rumah produksi Totabuan TV, dan aktif dalam komunitas teater
semasa sekolah. Menulis cerpen, di antaranya dimuat di Kompas dan Horison.
Kuliah di Fakultas Hukum Universitas Katolik De La Salle, Manado. Kini telah
merampungkan Novel pertamanya.
Cerpen
karya Cicilia Oday: "Rumah"
SEINGATKU
dulu di sana terdapat selajur setapak dari himpunan batu; yang paling kecil
hanya sebesar kelereng, sedang yang paling besar seukuran telur ayam kampung,
dengan bentuk tak beraturan dan pipih. Batako-batako berbaris mengapit kedua
sisi setapak sehingga batu-batu itu takkan berserakan meskipun terlalu kerap
dilalui. Ujung selatan setapak berawal dari pintu pagar, ujung utara berakhir
di depan tangga teras. Oma Ema telah berkali-kali mengingatkan bahwa jalan
setapak itu hanya untuk dilalui pejalan kaki. Sekali waktu Opa Andries
mengendarai ontel tuanya di atas jalan setapak itu sekembali dari Gereja.
Batu-batu menggelotak ditimpa roda-roda sepeda yang tersendat. Tangan Opa
bergetar sambil mencengkeram setang. Dengan gelagat begitu rupa betapa tampak
beliau baru belajar mengendarai sepeda. Dari ujung teras, Oma mengomeli ulah
suaminya.
Papi, jang parkir tuh speda di
teras!*
Aku, Inggid dan Ridel sedang menanam lantana camara atau
bunga tai ayam di susuran pagar. Kami tergelak menertawakan Opa.
Ya,
aku ingat. Di susuran pagar kayu itu pernah tumbuh berpinak-pinak bunga tahi
ayam dan bunga matahari. Sebulan sekali Opa Andries biasa mengecat jerjak kayu
pagar yang menggelilingi rumah. Ridel, Om Roy, atau sesekali Ayah membantu
pekerjaan Opa. Tetapi musim kemarau menyebabkan cat putih itu mengeloyak. Opa
menggerutu sambil menyalahkan kualitas cat pilihan menantunya. Kayu pagar
lantas dicat lagi. Putih berkilau jeruji kayu berpadu dengan hijau daun-daun
dan kuning warna kelopak bunga tahi ayam dan matahari. Datanglah musim hujan,
udara lembab menyebabkan pangkal pagar bersalut lumut. Para cucu berniat
membersihkan. Opa segera melarang. Beliau menyukai warna hijau lumut, kecuali
lumut pada dinding sumur dan kakus.
Setiap
tanggal 17 Agustus Opa akan mengecat jeruji pagar dengan warna merah dan putih.
Seluruh jeruji kayu bagian atas dicat merah pekat. Bagian bawahnya dibiarkan
tetap putih. Kadang satu ruji dicat merah seluruh. Ruji disebelahnya dicat
putih seluruh. Demikian seterusnya secara berselang seling. Suatu kali aku
memetik kelopak bugenvil dari pekarangan dan menyarankan Opa agar mengecat pagar
kami dengan warna merah serupa kelopak bugenvil itu. Opa menepis tanganku yang
menyodorkan kelopak bugenvil di depan wajahnya.
Merah yang itu milik Nippon, bukan merahnya kita, kata Opa. Itu
dorang pe merah, bukang torang pe merah.**
Aku belum bersekolah ketika itu, jadi tak paham benar ucapan
beliau. Di kemudian hari kutemukan warna merah pastel kelopak bugenvil pada
pipi dan bibir orang-orang Jepang yang cenderung kemerahan lantas segera
teringat ucapan Opa tempo hari. Ketika jari telunjukku tersundut duri bugenvil,
Opa menatap setetes darah yang pelan-pelan menyembul ke luar dari ujung jariku
dan berkata bahwa merahnya darah adalah warna kita. Warna keberanian. Adalah
berani kalau kamu tak takut mati, tegas Opa. Menggebu. Aku manggut-manggut.
Opalah yang paling tahu.
Dengan
selembar koran yang tergulung di tanganku kusibak ilalang yang memenuhi
pekarangan, bercuatan menghalangi langkah. Aku yakin sedang melangkah di atas
tanah yang dahulu adalah jalan setapak. Lumut tebal menyaput anak-anak tangga
teras. Aku berdiri di salah satu anak tangga dan memberus lumut dengan
sepatuku. Kerikil-kerikil, debu, batang-batang ilalang kering dan bulu unggas,
menyeraki ubin teras. Aku berdiri di tengah teras dan menghadap pekarangan.
Kulihat Opa dalam balutan singlet sedang membungkuk di depan pagar sambil
menyiangi rumput-rumput teki yang tak diharapkan tumbuh di sana, atau
memandikan ontelnya di tengah halaman. Angin kencang berhembus, jambul beringin
di sudut pekarangan berdesir. Adegan masa lalu itu lesap dari benakku. Kulihat
Oma Ema dan anak-anak perempuannya—termasuk Ibuku—mengenakan caping sambil
menyeret cangkul melangkah ke luar pintu pagar, menuju rumah hukum tua untuk
mendengarkan sebuah pengarahan. Dari palakat telah diumumkan sedari tiga hari
sebelumnya bahwa mapalus akan diadakan di halaman balai desa. Ayah tak bisa
ikut, kakinya sedang terluka. Aku dan Inggid disuruh menemani Ayah. Aku memijit
tungkai Ayah dan sesekali menepis lalat-lalat yang mengerubuti lukanya. Inggid
beranjak ke dapur untuk membuatkan kolak kacang ijo. Wajah Ayah tampak muram.
Tiga hari belakangan kusadari ia jarang bicara. Aku bertanya mengapa. Ayah sudi
bercerita asal aku berjanji dapat menjaga rahasianya. Aku berjanji. Luka pada
kaki kirinya disebabkan oleh Om Roy. Om Roy adalah anak sulung Oma dan Opa,
kakak Ibuku. Ayah Inggid dan Ridel. Oma dan Opa telah menjatahkan rumah ini
untuk anak bungsu mereka. Kata Om Roy rumah seharusnya diberikan kepada anak
laki-laki tertua. Ibu diam saja. Ayahlah yang angkat suara untuk mewakili
istrinya. Om Roy menuduh Ayah telah menghasut Oma dan Opa untuk mewariskan
rumah ini kepada Ibuku. Ayah mengelak tuduhan. Tak pelak mereka bertengkar. Om
Roy mengayunkan celuritnya menuju Ayahku. Ayah melompat mundur, luput dari
tebasan celurit. Om Roy melontarkan celurit. Ayah kembali menghindar, tapi ia
salah perhitungan. Mata celurit menancap pada kakinya. Bujari kaki kiri Ayah
hampir putus. Aku menangis mendengar cerita Ayah. Tangannya dengan cepat
menyembar lenganku sewaktu aku berniat menyerang Inggid di dapur.
Kurogoh
ke luar sebuah anak kunci dari dalam saku. Di lain hari aku gemar mengelus anak
kunci itu berlama-lama seraya membayangkan jejak jemari orangtuaku dan
orang-orang yang pernah memegang anak kunci ini di masa lalu. Kubayangkan
gembok kecil yang menggelantung di antara daun pintu rangkap berdebu itu
menangis haru karena hendak bersua pasangannya lagi. Tetapi waktu dan korosi
membuat mereka kepam dan asing terhadap satu sama lain. Tembukan pada telinga
akan mengatup bila terlalu lama tak dipasangi anting. Aku bertanya-tanya apakah
lubang anak kunci di bawah gembok itu juga telah tertutup sebab terlalu lama
tak dijejalkan anak kunci. Logam karatan yang berbentuk busur kecil itu
terangkat dari badan gembok. Dadaku berdebar. Kami telah meninggalkan rumah itu
selama berpuluh tahun. Ayah berpindah-pindah tugas sebagai hakim Pengadilan
Negeri di berbagai tempat. Ibu yang tak ingin terus mendapat tekanan dari
saudara-saudarannya memutuskan ikut Ayah. Aku tetap di Manado. Bersama suamiku
kami tinggal di kompleks perumahan Citra Land. Sebagaimana anak kunci dan
gembok karatan itu, aku dan rumah ini telah asing terhadap satu sama lain.
Apakah
masa lalu memiliki aroma? Udara kering berisi debu di ruang tamu itu segea
menyambut hidungku. Bersinku beberapa kali memecah hening dan menepiskan
debu-debu yang mengambang di depan wajah. Satu set kursi rotan berpernis pernah
mengisi ruangan seluas 4 x 4 meter itu. Jambangan dari tanah lempung bertengger
di tengah meja, dijejali bunga-bunga plastik buatan Inggid. Tangkai-tangkai
bunga terbuat dari lidi. Daun-daun dibentuk dari kalender bekas.
Kelopak-kelopak bunga yang merah dan hijau terbuat dari kantong plastik kecil.
Pada hari-hari tertentu, meja rotan itu akan dihampari taplak meja. Kupu-kupu
hijau muda dan kembang sepatu melekat di sudut ujung taplak sebagai hasil
sulaman Ibuku. Pada hari-hari biasa permukaan meja dibiarkan terdedah polos.
Aku menghampiri salah satu jendela di seberang pintu. Daun
jendela terpentang ke luar. Dahulu, dari ambang jendela ini aku biasa melihat
Tanta Irma berkutat mencari kutu dari kepala lima orang anak perempuannya. Kini
hanya sebidang tembok berlumut yang menghadang mataku. Tak ada tetangga. Di
balik tembok itu berdiri sebuah toko onderdil. Debu menyaput seluruh permukaan
kaca jendela persegi panjang di ruang tamu, membuat pemandangan ke pekarangan
sabur lemur. Kukatupkan kembali daun jendela dan beralih ke ruangan lain.
Di tembok ruang keluarga itu pernah bertengger sebuah busur
kayu bersama enam batang anak panahnya, yang dipajang secara berderet membentuk
kipas. Ini bukan barang mainan, kata Opa suatu kali. Temannya dari Papua
menghadiahkan senjata berburu itu kepadanya. Tetapi di Minahasa, senjata ini
lebih berguna untuk memburu pemerintah pusat yang korup. Dulu Opa membenci
orang-orang Jepang dan Belanda. Belakangan kebenciannya menjalar kepada
pemerintah negaranya sendiri. Pada suatu masa ia berhenti memajang pigura
berisi gambar presiden pertama Indonesia dan menggantinya dengan foto Ventje
Sumual, pemimpin gerakan Perjuangan Semesta. Ketika Ridel menikah, Opa
menghadiahkan busur beserta ke enam anak panahnya kepada cucu lelakinya itu.
Siapa tahu sewaktu-waktu bisa kamu pakai memanah mertuamu yang komuis itu, kata
Opa. Anak-anak tertawa mendengar guyonan Opa. Orang-orang dewasa tertawa masam.
Seingatku hanya Ayah yang tidak tertawa sama sekali. Apakah Ayah juga komunis?
Tanyaku pada Ibu. Kata Ibu, Ayah bukanlah komunis. Tetapi orang-orang komunis
juga adalah saudara kami, bukan? Kasihan nasib ke tujuh pahlawan revolusi,
kataku. Para komunis juga tak sedikit yang kemudian dibunuh, timpal Ayah. Masih
kuingat geram yang melatari suara dan wajahnya sewaktu berbicara. Setiap orang
merasa memegang kebenaran tertinggi, kata Ayah kemudian. Siapa yang merasa
paling benar mengira berhak melenyapkan nyawa orang lain.
Jadi, siapakah yang paling benar, Ayah?
Yang paling benar adalah hukum, kata Ayah, yang kemudian
memutuskan menjadi seorang hakim.
Sebuah
lampu teplok bertengger pada tembok di samping kusen pintu yang menghubungkan
ruang keluarga dengan ruang makan, satu-satunya perabot yang masih tersisa dari
masa lalu. Seingatku lampu itu telah di sana sejak aku lahir dan tumbuh di
rumah tua ini. Bila diisi minyak dan sumbuhnya diganti, barangkali lampu teplok
itu masih akan berfungsi. Sebuah meja persegi panjang sederhana merapat di
sudut terjauh ruang makan. Kuhampiri meja itu, dan menelusuri salah satu
sisinya dengan telapak tanganku, seperti hidung yang tengah menghidu jejak
suatu bau. Tak berapa lama kutemukan apa yang kucari. Sayatan-sayatan yang
membentuk gambar orang-orangan itu kubuat dengan gigi-gigi garpu pada suatu
siang ketika menemani Ayah yang terluka kaki. Mendapati permukaan mejanya
kurusak dengan gambar orang-oranganku, Opa menegur perbuatanku, lalu memberiku
sepotong papan kayu dan batu tulis. Manakala itu kami belum familier dengan
kertas dan pensil. Menggambarlah di situ dan jangan lagi merusak perabotan,
pesan Opa. Ketika aku beranjak remaja dan beliau semakin ringkih, kupergoki Opa
sedang menekuri gambar orang-oranganku begitu lama. Aku menghampiri Opa bersama
semangkuk bubur panas. Bulir-bulir air matanya melekat pada permukaan meja. Aku
duduk di samping Opa dan menuntun ia memerhatikan sayatan-sayatan berujud
orang-orangan itu satu persatu.
Ini Ayah, kata memulai. Telunjukku menyentuh
orang-orangan itu secara berganian. Yang pakai rok ini Ibu. Aku menunjuk
gambar orang-orangan terpendek yang berdiri di antara kedua orangtuanya. Ini
aku. Orang-orangan yang memiliki sanggul dibelakang kepalanya adalah Oma
Ema. Dan yang memegangi sebilah parang adalah Opa. Telunjukku berhenti pada
gambar dirinya. Opa Andries mulai menangis kembali. Punggungnya bergetar,
memendam tangis dan sebuah bayangan masa lalu ke dalam rongga dadanya.
Opa pernah berkata, bahwa sehebat apapun manusia, suatu hari
ia pasti kalah oleh waktu. Tak ada satupun senjata yang dapat mengalahkan
waktu. Yang kita perlukan hanyalah kebesaran hati menerima. Kata Opa sehari
sebelum ajalnya menjemput.
Aku
memasuki kamar tidurnya. Tempat tidur kayu yang menopang tubuhnya terakhir kali
masih terdapat di sana, merapat pada satu sisi tembok di dekat jendela. Cahaya
matahari menyusup masuk melalui ventilasi, menyoroti debu yang mengambang
memenuhi udara kamar. Langit-langit dari selembar tripleks tua di salah satu
sudut telah terkulai lepas. Tepiannya bergerigi. Air hujan dan lembab udara
memudahkan pelapukan kayu itu. Sarang burung bertengger di atas celah sempit di
antara tripleks dan tembok. Air hujan yang pernah menetes menyisakan jejak
kecoklatan pada permukaan tembok. Noda-noda itu membentuk corak yang menyerupai
stalaktit, atau tetesan darah yang telah lama pudar. Aku telah melihat
noda-noda yang sama di ruangan yang lain. Kudukku meremang. Aku beranjak ke
ruang tamu dan menghadapi artikel itu kembali.
Sebuah Putusan yang Akan Mengubah Segalanya.
Tidak, aku takkan membiarkan sebuah putusan apapun mengubah
kehidupan kami. Seorang ayah sangat mungkin berbuat kesalahan. Ayahku sendiri,
dan ayah dari anak-anakku. Ayahku telah keliru sejak ia berkata bahwa
satu-satunya kebenaran adalah hukum. Tetapi bagaimana dengan kesedihanku dan
kekecewaan anak-anak kami terhadap Ayah mereka? Mereka tak pernah
mempertimbangkan perasaan kami ketika membuat ketentuan itu. Majelis hakim,
mari kita lihat siapa yang harus tunduk kepada siapa.
Handphonku
bergetar. Kurogoh ke luar. Nama yang tertera di sana membuatku tersenyum.
Kusahuti panggilannya dan meyakinkan penawar pertamaku itu bahwa ia sudah dapat
mengunjungi calon rumahnya tiga hari kemudian. Tiga hari yang akan melenyapkan
rumput-rumput ilalang dari setiap jengkal tanah halaman dan meniadakan jejak
setitik pun debu atau kerak lumut, dan langit-langit tak perlu lagi melendut
dan seluruh tembok dicat putih bersih. Aku janji. Aku jamin. Ia adalah seorang
rekan dosen yang mengeluh bahwa jaman sekarang sudah sulit menemukan sebuah
rumah berasitektur serupa rumah-rumah pada jaman Belanda. Konstruksi
rumah-rumah pada jaman itu jauh lebih kokoh daripada rumah jaman sekarang,
menurutnya. Lagipula, ia menyukai barang-barang antik. Kepadanya kutunjukan
foto diriku yang kanak-kanak sedang duduk di atas undakan teras.
Rumah ini diwariskan kepada Ibuku, yang hanya memiliki satu
orang anak—siapa lagi? Kataku.
Ia menatapku diriku, si pemilik rumah terakhir, dan rumah
antik itu secara berganti-ganti. Matanya mendelik kagum. Ia mengingini rumah
itu. Aku mengingini uangnya. Ia tak keberatan dengan jumlah yang kusebut.
Solilokui Bunga Kemboja
Cerpen Cicilia Oday (Kompas, 20 Juni 2010)
DIRIKU sekuntum bunga Kemboja. Kelopak-kelopakku merah kesumba sewarna gincu wanita yang kerap memandikanku sekali seminggu.
Wujud rupaku menyerupai genta. Walaupun kami lebih identik sebagai bunga kuburan, tetapi oleh wanita yang memeliharaku, aku tumbuh di dalam sebuah pot cantik di teras depan rumahnya. Dari tempatku berada, aku biasa menatap bentangan langit malam yang berhamburan bebintangan.
Benda-benda angkasa yang terang benderang itu selalu mengingatkanku pada seseorang. Seseorang yang benarlah nyata, tetapi lebih tampak seperti fatamorgana. Aku selalu memandanginya tatkala ia sedang memandikan mobil kesayangannya dari dalam garasi.
Lelaki itu adalah anak sulung wanita yang warna gincunya sewarna diriku. Sempat kedengkian menghinggapiku melihat betapa kedekatan kedua manusia berbeda kodrat itu, sampai kudengar si lelaki menyapa wanita bergincu kesumba itu dengan panggilan ibu.
Dari wajah dan rekah senyumnya tahulah aku betapa kebaikan hatinya seperti kebanyakan manusia penghuni rumah ini. Dari caranya memperlakukan mobil kesayangannya, tahulah aku betapa ia tak pernah pilih kasih terhadap benda mati ataupun benda hidup.
Sampai detik ini aku masih memendam rasa cemburu terhadap benda mati bernama mobil itu. Setiap hari kulihat lelaki itu menumpanginya manakala hendak menuju suatu tempat yang tak pernah kuketahui juntrungannya.
Tiap kali ia kembali hari telah merangkak malam. Raut wajah dan bahasa tubuhnya memberitahuku bahwa ia kelelahan. Tetapi keesokan pagi ia akan mengulangi kebiasaan yang sama, sampai lantas kuhafal luar kepala pola kegiatannya meskipun sebatas teras dan garasi itu saja.
Sesekali kulihat ia pulang dengan mengajak beberapa orang lelaki seusia dirinya. Tak jarang terdapat satu atau dua orang perempuan di antara mereka. Percakapan yang diiringi tawa berlangsung tatkala mereka melintasi teras depan sebelum mencapai ruang tamu.
Betapa beruntung menjadi manusia lelaki dan perempuan yang dekat dengan lelaki itu, walaupun bagiku tetap tiada yang lebih beruntung daripada mobil yang selalu ia tumpangi. Tak jarang mereka berkumpul di kursi teras sembari bercakap ditemani penganan dan secangkir teh.
“Coba lihat. Kembang Kemboja itu seperti sedang menatap kita,” kata perempuan yang telunjuknya menunding ke arahku. Lantas seorang lelaki bertubuh ceking berjalan melintasi teras sambil menggenggam spidol di satu tangannya.
“Kamu mau apa?” tanya si lelaki, menyela langkah temannya.
“Aku mau bikin mata pada kedua kelopak Kemboja itu supaya kelihatan kalau dia benar-benar menatap kita.”
“Hey, itu Kemboja kesayangan Ibuku.”
Itulah hari pertama ia membelaku di depan teman-temannya. Kelopak-kelopakku mekar dan warnaku kian merona. Tetapi selain hari itu, lelaki itu tak pernah memperhatikan diriku secara khusus. Keindahanku hanya berlaku di depan mata para wanita sebab mereka lebih dapat menghargai keindahan. Bagi lelaki itu dan teman-temannya, aku tiada berbeda dari pot tempat tubuhku bertumbuh. Rasa kecewa yang hinggap dalam diriku semakin besar tiap kali lelaki itu lewat tanpa pernah sempatkan melirikku barang sekejap.
Betapa keindahan ini seperti tak berarti tanpa dihargai oleh lelaki yang kucintai. Atas kesadaran itu, suatu hari aku berhenti membuat diriku mekar, tak peduli berapa kali dalam seminggu wanita bergincu itu memandikanku dan memberiku pupuk untuk meningkatkan kualitas tanah di dalam potku, usahanya tetap tak bisa membantu. Aku telah kehilangan minat terhadap kehidupan.
Masa itu berlangsung berminggu-minggu lamanya. Rona pada kelopak-kelopak bungaku pudar. Wanita itu kini tak bergincu lagi. Wajahnya tampak selisut diriku yang tak mau mekar barang serecup saja. Seluruh bunga Kemboja di teras rumahnya turut merasakan dukaku. Mereka lantas putuskan tak mau mekar selama dukaku belum teratasi. Raut wajah sebam dan sepasang mata tanpa binar cahaya menatap iba kepada kami.
Belakangan lelaki itu pun tampak bermuram durja. Tiap kali melintasi teras menuju garasi ia tak lagi memutar-mutar seronce anak kunci di ujung telunjuknya sambil bersiulan. Jangan-jangan sesuatu terjadi pada mobil kesayangannya. Tetapi kepada seorang teman kudengar ia memberi tahu bahwa kesedihannya disebabkan oleh sikap murung ibunya.
Wanita yang telah malang melintang di dunia botani itu mendandak merasa dirinya tak becus mengurusi tetumbuhan di teras depan rumahnya sehingga nyaris seluruh Kemboja kesayangannya mati. Daun-daun meluruh nyaris tanpa bersisa, kelopak-kelopak bunga mengatup seperti gadis-gadis remaja yang merajuk.
Sumber terdalam kesedihan lelaki itu adalah keputusan sang ibu untuk menyerah dari hobinya bercocok tanam, hal mana yang menjadi satu-satunya hiburan di masa menjelang pensiun. Melihat kenyataan itu, yakinlah aku bahwa si lelaki lebih menyayangi sang ibu daripada benda mati yang ia mandikan setiap pagi, walaupun tampak ia lebih besar menaruh perhatian padanya. Tetapi ia tetaplah lebih mencintai perempuan yang mencintai diriku dan bunga-bunga Kemboja yang lain, bagaikan kami ini anak-anaknya sendiri.
Pagi hari adalah waktu terbaik bagi setiap bunga. Titik-titik embun menyaput sekujur kelopak yang baru separuh merecup. Kami lebur bersama gigil pagi. Tetapi pagi itu aku merekah mendahului yang lainnya. Kelopak-kelopakku bahkan mekar lebih lebar daripada biasanya. Dengan tak sabaran aku menantikan pintu depan di ujung teras itu dibuka untuk pertama kali.
Pada setiap pagi yang telah kulalui di teras rumah ini, wanita berginculah yang selalu membuka pintu depan untuk pertama kali bersama alat penyiram tanaman di tangannya, dengan bekal semangat berniat memberi kami makan. Minggu-minggu terakhir betapa pemandangan itu tak pernah tampak lagi, tetapi kujamin pagi ini keputusanku menjadi mekar kembali dapat mengembalikan semangat yang sempat redup wanita bergincu itu.
Matahari sudah setengah perjalanan melakukan patrol. Sinarnya menyapuh tiap lembar daun dan kelopak bunga kami. Siang hari menjelang. Aku gelisah menunggu pintu itu dibuka oleh si wanita bergincu. Akhirnya daun pintu terbuka, tetapi yang tampak olehku pertama kali adalah dia, lelaki itu! Kaus oblong yang membalut tubuhnya nyaris sewarna kelopak-kelopak bungaku. Ia berjalan gontai. Aku terus mengawasi wajah tampan lelaki itu. Sesuatu dalam diriku berdebar keras, sehingga menyebabkan kelopak-kelopakku bergoyang.
Tak kuduga gerakanku memancing lelaki itu menoleh. Matanya melebar pada detik pertama ia menatapku. Kutunggu lelaki itu menghampiriku, tetapi tubuh itu berbalik menuju pintu, berlari sepanjang ruangan. Kurang dari satu menit kemudian, lelaki itu muncul lagi bersama wanita bergincu yang masih belum lagi bergincu. Mata wanita itu melebar sambil mulutnya menganga. Perlahan ia melangkah menghampiri pot-pot berisi Kemboja sepanjang tepian teras, menyapuhkan tangannya di atas kelopak-kelopak kami secara bergantian.
“Bunga-bunga itu tak ingin berlama-lama melihat kesedihan ibu.” Lelaki itu berkata. Sebutir air susul menetes jatuh dari sudut mata wanita itu. Keterkejutan di wajahnya berubah haru atau apa pun itu yang sukar kujelaskan. Pelan bahunya lantas bergetar sebelum isak tangis menguasainya. Lelaki itu mendekap tubuh ibunya, merapatkan kepala pada bidang dadanya.
“Mungkin ini karena pupuk yang ibu beri waktu itu,” kata wanita itu.
“Mungkin karena ibu tak pernah berhenti mencintai mereka,” lelaki itu lebih yakin dengan pendapatnya. Mungkin baginya, kebahagiaan sang ibu membawa dua kali lipat kebahagiaan bagi dirinya, tetapi bagiku, betapa kebahagiaannya membawa berlipat-lipat kebahagiaan bagi diriku.
Aku mulai dapat memaknai diriku lebih dari sewujud bentuk yang menyerupai genta dan merah kesumba kelopak-kelopakku. Keindahan barulah bermakna ketika ia dapat bermanfaat bagi makhluk lain tak terkecuali manusia, terutama bagi wanita bergincu yang betapa kesedihannya adalah beban bagi anak laki-laki sulungnya.
Wanita bergincu itu kembali memoles bibirnya dengan gincu merah kesumba sewarna kelopak-kelopakku. Duka si lelaki kini lesap bersama duka sang ibu. Mulailah pola kegiatannya berjalan seperti biasa dengan semangat yang tak biasa.
Malam hari mobil kesayangannya memasuki garasi. Sesuatu dalam diriku berdebar keras menunggu sosok lelaki itu terlihat. Pintu kemudi terbuka, menyusul dirinya berjalan keluar mengitar mobil. Di luar kebiasaan ia membuka pintu di samping jok penumpang. Tampaklah seorang wanita berambut panjang ikal mayang, berdiri di sampingnya.
Kulihat wajah si lelaki sumringah tatkala menuntun perempuan itu berjalan melintasi teras. Tangan keduanya saling menggenggam. Di tengah teras mereka berhenti. Perempuan itu menunduk sambil menggigit bibir. Tangannya meremas tangan lelaki yang menggenggamnya. Kudengar ia mengeluh cemas.
“Tidak apa-apa, tidak apa-apa,” Lelaki itu berusaha menenangkan. Sehembus angin menyebabkan desir dedaunan yang saling menggesek. Dua helai daunku melayang jatuh, disambut lembab tanah. Tetes-tetes getah berjatuhan dari ujung lengan tempat pangkal daunku barusan jatuh. Sebelum malam ini angin sekencang apa pun tak dapat menyebabkan daun-daunku luruh. Melihat keadaannya sekarang, aku ragu bahwa anginlah benar penyebabnya. Siapakah yang patut kusalahkan di antara si lelaki dan perempuan berambut panjang ikal mayang? Barangkali takdirku sendiri karena tercipta hanya sebagai sekuntum bunga Kemboja.
Lelaki itu berjalan menujuku. Perempuan berambut panjang ikal mayang itu tetap terpaku di tengah teras, memperhatikan gelagat si lelaki. Tangan lelaki itu terangkat menuju sepal tempat melekatnya kelopak-kelopakku. Detik pertama ia menyentuhku, ia membawa serta seluruh kesadaranku dari lengan cabang tempat aku tertancap seorang diri. Betapapun, aku hanyalah sekuntum bunga Kemboja. Hidupku berakhir di ujung jemari lelaki yang kuncintai, yang dengan wajah direkah senyuman membawaku kepada perempuan berambut panjang ikal mayang yang tengah cemas menantinya di tengah teras.
Diselipkannya diriku di ujung pangkal telinga sang kekasih. Dari sana aku dapat menatap wajahnya lebih jelas dari yang sudah-sudah. Ia tersenyum menatap diriku di ujung pangkal telinga kekasihnya, bening matanya memantulkan seraut wajah perempuan yang balas tersenyum.
Aku sekarat. Perempuan itu luput merasakan getahku yang bertetesan di antara helai-helai rambutnya.
“Kamu tidak apa-apa sekarang?” lelaki itu bertanya.
Perempuan itu mengangguk pelan. Mereka lantas berjalan menuju pintu masih dengan kedua tangan saling menggenggam. Di ambang pintu lelaki itu memindahkan diriku dari celah di antara kuping kekasihnya ke dalam kantong depan kemejanya. Dari sana, aku dapat mendengar detak jantungnya yang bagaikan menghitung detik-detik kematianku.
“Jangan sampai dilihat ibu bunga Kembojanya dipetik,” samar-samar suaranya terdengar. Getahku berhenti menetes. Walaupun aku masih memendam perasaanku terhadap dirinya, kini yang terpenting adalah memberikan kepada orang yang kucintai sesuatu hal yang dapat mendatangkan kebahagiaan bagi dirinya. Seandainya aku tercipta sebagai seorang manusia tentulah aku dapat belajar lebih banyak tentang cinta daripada yang dapat terpahami oleh sekuntum bunga Kemboja. (DJE)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar